Rabu, 30 Januari 2008

Nikmat nya Selingkuh


Taksi meluncur ke jalan Thamrin. Menurut Cecep Pak Purnawan menunggu saya di Grand Hayyat Thamrin. Begitu memasuki area gedung mewah berlantai 20 Cecep membawa aku langsung ke ruang parkir agar bisa mengantar aku menuju lobby hotel. Nampaknya dia paham liku-liku gedung ini.Sesudah melewati shopping arcade yang menampilkan berbagai barang-barang yang sangat mewah kami sampai di sebuah pintu kaca dengan eskalator. Kami masuk dan naik hingga sampailah ke lobby Grand Hayyat. Setelah celingak-celinguk nampak seseorang melambai ke arah Cecep.


Mungkin dia orangnya."Mari Bu, tuh Pak Purnawan sudah menunggu," sambil dia berjalan dan aku mengikutinya.Hatiku berdebar kencang. Benarkah dia? Pria yang demikian tampan itu. Dia macam bintang selebritis Primus yang pemain sinetron itu. Aahh.. Sungguh mempesona. Dengan dasinya yang demikian serasi nampak lelaki ini sangat aahh.. uuhh.. Aku tak bisa mengungkapkannya. Rasanya ada pancaran yang meluluh-lantakkan sanubariku dari sosok pria yang ingin kutemani minum kopi ini.Dengan segala pesonanya Pak Purnawan berdiri menyongsong aku. Aku terpana. Di depanku berdiri lelaki jangkung dan sangat macho. Apakah aku bermimpi? Kami saling berjabat tangan memperkenalkan diri,"Purnawan...""Tati," jawabku agak gemetar.Sosok itu demikian jangkung di depanku. Aku hanya setinggi pundaknya saja. Selintas hidungku menyergap aroma tubuhnya yang wangi. Sebelum beranjak untuk duduk, dengan 'handsome'nya Pak Purnawan merogoh kantongnya dan memberikan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kepada Cecep sambil,"Terima kasih Cep".Ahh.. aacch..


Yang sangat mempesona. Lelaki itu menunjukkan 'sex appeal'-nya padaku. Dengan senyum mengembangnya Cecep menerima asongan dari Pak Purnawan. Sepintas dia melihati aku sebelum mengangguk dan pergi."Apa kabar jeng Tati? Kita duduk di sana yok..." sambil tangannya meraih tanganku kemudian beralih ke pinggangku, dia membimbing aku menuju meja di pojok lobby dengan pemandangan yang sangat mempesona. Panorama bunderan air mancur dengan patung Selamat Datang-nya yang sangat terkenal itu nampak tepat di depan tempat duduk kami. Aku sungguh sangat tersanjung dengan sikap Pak Purnawan ini.Aku sepertinya kena sihir. Begitu mudah aku menerima perlakuan Pak Purnawan pada diriku. Begitu tanpa mengelak saat dia meraih tangan dan menggamit pinggangku. Entah karena apa. Mungkin karena suasana kemewahan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Atau memang ketampanan lelaki macam Pak Purnawan yang demikian jauh dari Mas Pardi yang selalu nampak loyo dan kumuh?


Dan.. Aku rasa tak ada perempuan yang akan menolak gamitan tangannya. Atau bahkan mungkin tidur dengannya.Aku masih berpikir, memang beginikah semestinya menemani makan atau minum kopi di hotel?? Pakai membimbing tangan dan merangkul pinggangku? Aku ingin menolak namun khawatir dianggapnya kurang gaul. Aku nggak tahu mesti bagaimana membawakan diriku. Akhirnya yaa.. Kuikuti saja apa yang terjadi. Jangan sampai Pak Purnawan memandangku sebagai perempuan blo'on, khan?Terus terang rasa banga dan tersanjung berkecamuk dalam diriku. Antara senang karena seorang aku, Tati, yang hanya istri PNS bisa duduk di tempat yang super mewah bersama pria setampan Primus yang bintang sinetron itu. Bagaimana aku bisa menolaknya?? Bukankah ini kesempatanku untuk merasakan bagaimana menikmati hotel termahal di Jakarta dan duduk bersama Pak Purnawan yang pengusaha sukses ini? Adakah tampilanku sesuai dengan tampilan Pak Purnawan ini.Untung aku telah mempersiapkan diriku secara maksimal menjelang keberangkatan dari rumah tadi. Kupakai gaun pilihanku serta sebentuk perhiasan di leher dan tanganku yang cukup menarik.


Aku yakin gaun pilihanku serta aroma Channel No.5 dari tubuhku telah membuat Pak Purnawan tidak ragu atau malu menuntun aku di tempat yang super mewah ini.Pelayan yang sangat santun datang memberikan katalog mewah berisi daftar minuman atau makanan yang ingin kami pesan. Pak Purnawan bertanya padaku mau pesan apa? Minum apa?"Terserah Pak Pur sajalah..." jawabku yang kurasakan agak 'norak'."Jangan panggil Pak, jeng.. Memang aku sudah nampak tua?? Mau panggil Mas??" dia melempar senyuman yang begitu tampan menawan. Nampak banget kelelakian Pak.. Eh Mas Purnawan ini. Bagaimana aku mampu menolak rangkulan tangannya."Jeng Tati nggak keberatan khan kalau hari pertama ini nemenin saya bersama teman-teman sampai sekitar jam 9 malam nanti?? Yaa.. Total sekitar 4 jam-lah," reaksi pertamaku adalah menghitung 4 X Rp. 1 juta atau Rp. 4 juta aku bisa bawa pulang sore pertama ini. Hi, hii..Namun aku tadi mendengar bahwa dia akan bersama teman-temannya? Bagaimana bisa? Ah.. Jangan menjadikan soal. Mas Pur khan pengusaha. Dia pasti memilliki tujuan-tujuan besar untuk pertemuan ini. Bukan hanya semata-mata mencari kesenangan. Dan peranan aku yang 'menemani' itu pasti dimaksud untuk lebih melancarkan jalan menuju sasaran besarnya itu. Dan untuk itulah dia berani memberikan imbalan jasa padaku Rp. 1 juta per jamnya.


Aku harus tanggap dalam menghadapi hal seperti ini."Terserah Mas Pur, kebetulan suami saya juga sedang tugas keluar kota, Kok. Jadi saya bisa bebas," jawabku sedikit dengan perasaan tergetar. Dalam pikiranku Mas Purnawan akan 'memakai' aku selama 4 jam. Hasrat libidoku menggeliat."Oo.. Kebetulan, aku lebih suka berhubungan dengan wanita yang telah bersuami, jadinya nggak banyak risiko gitu..." sambil tangannya kembali meraih tanganku.Namun kali ini pegangan tangannya itu disertai pula dengan remasan halus pada jemariku. Dan remasan itu seperti 'stroom' listrik. Menjalar menelusuri urat darah dan saraf-saraf peka dalam tubuhku. Sepertinya aku tak kuasa menerima 'stroom' macam ini."Untuk makan malam saya telah minta hotel untuk menyiapkan dalam kamar nanti. Habis minum ini kita langsung saja naik ke kamar. Nanti teman-teman saya pasti menyusul ke atas"Mas Pur mengangkat gelas dan menunggu aku mengangkat gelasku. Kami mengadu gelas kami hingga terdengar suara 'ting', kami lantas meneguk minuman yang masih terasa asing di lidahku.


Namun aku akan tetap berlagak bahwa hal-hal seperti ini telah biasa aku lakukan pula. Beberapa menit saat berjalan menuju kamar, pandangan mataku mulai melayang. Entah minuman macam apa yang telah kutelan tadi.Kami memasuki sebuah kamar vvip yang sangat mewah. Sepanjang jalan tak lepas-lepasnya Mas Pur meremasi tanganku sambil merapatkan tubuh harumnya ke tubuhku. Semua suasana dan kondisi ini membuat aku tak sempat lagi bertanya. Aku menerima begitu saja apa yang terjadi. Bahkan aku sadar aku mulai memasuki gerbang yang selama ini tabu bagiku. Aku telah berada di tengah-tengah nalar selingkuh yang penuh ingkar janji setiaku pada suamiku.Kehausan dan obsesiku sendiri selama ini, yang kemudian dipicu oleh pertemuannya dengani Cecep sopir taksi itu benar-benar mematangkan situasi dan hasrat libidoku. Aku kini bukan hanya telah larut, bahkan aku serasa ingin cepat menggapai nikmatnya badai birahi bersama Mas Purnawan ini.


Nafsu syahwatkulah yang menjawab dengan hangat setiap remasan tangannya.Begitu masuk kamarnya yang sangat mewah dalam pandangan mataku Mas Pur menekan daun pintu. Sesaat kami berpandangan dan saling melepas senyuman sebelum akhirnya kami saling berpagut. Aku gemetar. Sungguh merupakan sensasi hasrat seksualku. Inilah peristiwa pertama dalam hidupku. Aku menyadari bahwa yang kini memeluk dan mencium atau yang kupeluk dan kucium bukanlah Mas Pardi suamiku. Aku menyadari bahwa kini aku sedang berselingkuh meninggalkan janji kesetiaanku pada suamiku.Kami lama berpagut saling menukar lidah dan ludah. Sungguh hebat nikmat perselingkuhan ini. Aku jadi ingat masa kecilku dulu. Bagaimana nikmatnya mencuri jambu tetangga. Jambu yang relatip muda belum manis itu terasa lebih nikmat dari jambu yang benar-benar masak kiriman tetangga pemilik jambu itu. Dan itu yang kini sedang melanda aku.


Kenikmatan mencuri. Mungkin mencuri itulah penyebab nikmatnya.Demikian pula 'selingkuh'. Pada saat selingkuh ini kita menghadapi berbagai ancaman. Kemungkinan suatu saat ketahuan karena ada yang melihat dan melapor dan 'rasa dosa' atas ingkarnya janji. Rasa dosa yang akan terus mengejar kita bisa membuat penderitaan tersendiri. Namun sebagaimana yang sedang melanda hasrat seksualku kini, semua ancaman itu rasanya aku abaikan. Que serra serra, begitulan orang Spanyol bilang. Terjadilah apa yang musti terjadi, pokoknya selingkuh jalan teruuss..Kurasakan remasan tangan Mas Pur pada bahuku. Remasan itu mengantarkan aku menjenjangi birahiku. Jantungku berdegup kencang. Kini aku dalam pelukan nikmat curian dari lelaki yang bukan suamiku. Dan aku terhanyut deras tanpa pertimbangan.Lumatan lidah Mas Purnawan sungguh memabukkan. Aku rasakan betapa pipi dan dagunya yang baru bercukur terasa kasar merangsang saraf-saraf birahiku. Aku sepertinya terlempar keawang-awang. Nggak tahu untuk turun di mana nantinya.


Yang kulakukan adalah mengikuti naluri dan refleksku, memperkuat rangkulan dan gantunganku pada lehernya. Aku rasakan tangan-tangan Mas Pur sibuk melepasi blazer-ku. Dan dilemparkannya begitu saja ke sofa di samping pintu. Memang aku menjadi lebih nyaman.Tangannya yang kekar mulai merogoh blus dan kurasakan saat jari-jarinya menyentuh merabai pentilku. Buah dadaku diremasinya. Perasaanku tak terkatakan. Nikmatnya berselingkuh, lelaki yang bukan suami memerosoti baju dan meremasi susu, dduuhh.. Aku langsung sanja menyerah karena kemikmatan yang tak terhingga ini. Aku benamkan wajahku ke lehernya sambil merintih."Mm.. Mas Puurr.. Amppunn.. Nikmat banget seehh..." aku menyapukan lidahku pada lehernya. Gelegak nafsu yang tak terbendung. Aku telah kehilangan rasa takut dan malu. Aku menjerit dan meracau,"Mmaass.. Maass.. Hheecchh..." sambil lidahku terus menjilat dan bibirku mengecupi leher Mas Purnawan. Hal ini membuat remasan tangannya pada payudaraku lebih menggila. Dia lepasi blusku dan kembali dilemparkannya ke sofa.


Kini aku telanjang dada. Mas Pur langsung menyungsepkan wajahnya ke dadaku. Dia mulai mengulum pentilku dan menyusu bak bayi manja.Gelinjangku tak tertahankan. Aku menggeliat-geliat dan naluri syahwatku menuntun pinggul dan pantatku menggoyang dan menekan arah selangkangan Mas Pur. Di sana aku merasakan tonjolan besar mengganjal selangkanganku. Aku pastikan Mas Pur telah sangat terangsang birahinya. Dan 'kehausan'-ku mendorong tanganku untuk merabai kemejanya, menyusup ke dalamnya dan menjamah punggungnya yang gempal macho itu.Dengan tetap berdiri merapat pada daun pintu Mas Pur kembali memeluk erat pinggul dan bahuku, untuk memberi kesempatan tangan-tangan lentikku melepasi dasi dan kancing kemejanya. Aacchhzz.. Betapa menggelitik birahiku saat lidahnya menjilat kemudian bibirnya melumat leherku. Aku rasa cairan vaginaku sudah mulai terdesak membanjir keluar.Saat kulepasi kemejanya, yang di hadapanku dan dalam pelukanku kini adalah dada bidang lelaki yang sangat jantan.


Kurabai bisepnya, tanpa kusadari dalam meraba itu aku mendesah. Sentuhan syahwat begitu merangsang nafsuku. Aku ingin menjamah apapun yang bisa kujamah dari tubuh Mas Pur. Aneh, tiba-tiba aku menjadi liar. Sangat liar. Dalam kondisi macam itu tak terpikirkan sama sekali olehku dimana dan bagaimana Mas Pardi suamiku kini.Bibir Mas Pur menjalari pori leherku. Sepertinya aku tak lagi menginjak tanah. Perasaan melayang dalam alun badai nikmat yang tak terhingga. Yang kudengar hanyalah degup jantungku sendiri dan kecipat kecupan bibir-bibir Mas Pur yang terus melata.Aku merasakan tangan Mas Pur mulai menggerilya gaun bawahku. Ada kancing dan tali lembut yang dia lepaskan dan urai. Nafsuku menggelegak. Rasanya aku sedang dalam pintu pembantaian nikmat syahwatku. Desah dan lenguhku menyertai terampilnya tangan Mas Pur hingga seluruh gaunku merosot ke lantai.


Dinginnya AC kamar mewah terasa menerpai tubuh setengah telanjangku. Namun hanya sesaat.Dingin itu langsung lenyap saat lidah dan bibir Mas Pur kembali menjilat dan menyedoti payudaraku. Kali ini aku merasakan lebih merangsang nafsuku karena aku hampir bugil kecuali celana dalamku yang tinggal.Wajahnya diusel-uselkan ke belahan dadaku. Jangan tanya rasanya. Glyeerr.. Rasa stroom listrik menyentak dan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku menahan gejolak dengan mengaduh nikmat. Menutup mata sambil menengadahkan muka ke langit-langit merasakan betapa aliran syahwat nikmat itu menelusur kemudian membakar seluruh saraf-saraf lembut tubuhku. Aku menggelinjang hebat.Dalam posisi mendekap sambil menyedoti payudaraku di bawah sana, di antara pahaku mulai kurasakan batang panas yang didesak-desakkan ke arah vaginaku. Aku rasakan, kejantanan Mas Pur mulai beringas mencari sarangnya. Tanpa sepengetahuanku Mas Pur ternyata telah berbugil.


Ahh.. Sungguh terampil dan berpengalaman.Dan akhirnya celana dalamku juga direnggut oleh tangan-tangan kokoh Mas Pur. Sambil memelukku dengan tetap berdiri bersandar pada daun pintu dia melolosi seluruh busanaku. Kami benar-benar telah berbugil ria. Tubuh hangatnya menggelitik tubuhku. Gelombang kontur tubuhnya merapat kurasakan bersentuhan dengan gelombang kontur tubuhku. Sambil terus berpagut saling lumat dan jilat kami beradu keringat dan aroma tubuh dalam kamar mewah Grand Hayyat ini.Tanganku diraihnya. Dia tuntun untuk menjamah kemaluannya. Aku tergetar. Seumur-umur belum pernah aku menyaksikan kemaluan lelaki kecuali milik Mas Pardi yang suamiku. Kini bukan hanya melihat. Mas Purnawan ingin aku merabai dan menggenggam kontolnya.Kurasakan tanganku gemetar saat turun dibimbing tangan Mas Pur. Dan ketika akhirnya aku menyentuhnya, yang kurasakan awalnya adalah daging liat yang hangat dan berdenyut-denyut. Aku merabai dan tak ayal menggenggamnya. Ampunn..


Kurasakan seperti menjamah jagung manis di counter sayur Carrefour. Panjang dan.. duuhh.. gedenya begitu terasa dalam genggaman.. Tersentuh pula bulu-bulunya yang terasa lebih kasar dan kaku dari milik Mas Pardi.Aku bergidik akan besar dan kenyalnya. Nafsu syahwatku menggelegak. Tak bisa kubayangkan nikmat yang bakal melandaku saat batang ini nanti menembusi memekku. Tanganku mencoba mengelus dan mengurutinya. Aku meremas-remas dengan penuh gemas.Dengan sedikit beringsut hingga posisi Mas Pur mendekap aku dari arah belakang dengan tangan kekarnya Mas Pur merabai pahaku untuk kemudian meraih dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga hampir menyentuh dadaku. Bersamaan dengan bibirnya yang melepaskan jilatan dan pagutan pada leher dan bahuku pinggulnya bergerak menggoyang maju mundur menggesek-gesekkan kemaluannya hingga menyentuhi gerbang kemaluanku. Hebat.


Dari arah belakangpun ternyata aku merasakan kenikmatan yang sungguh sensasional."Adduuhh.. dduuhh.. aamppuunn.. Mmaass Ppuurr..."Kemaluannya terasa mendesaki bibir vaginaku. Dan rasa gatal birahi langsung menyergapku. Aku tahu kemaluanku saat ini telah sangat membasah. Alunan rayu, gesek, sentuh, lata dan kecup dengan disertai geram, perih, rintih dan kecupan telah demikan merangsang hasrat syahwatku. Akibatnya cairan birahiku tak mampu kubendung, Itulah yang kini menerima gesekkan dari kemaluan Mas Pur. Dan aku pasrah.Kini pahaku yang telah terangkat untuk membuka gerbang kemaluanku. Akankah Mas Pur akan memasukkan kontolnya ke kemaluanku dengan tetap dalam posisi berdiri dan bersender pada daun pintu ini? Namun pertanyaan itu tak pernah terjawab. Gelitik nafsu birahi dan rangsangan syahwat yang dahsyat telah membuat segalanya jadi mungkin. Aku merasakan ujung kontol Mas Pur telah menggelitik dan mendesaki bibir vaginaku. Aku pikir ini luar biasa. Sungguh sangat merangsang keingintahuan birahiku.


Dengan mendatangi dari arah belakang, kemaluan Mas Pur bisa menembusi lubang vaginaku. Artinya betapa panjang kemaluan itu.Dan dengan beberapa kali mendesak dan menghentak, menggerakan maju mundur pantatnya untuk mendorong kemaluannya mendesaki kemaluanku, akhirnya bibir vaginaku merekah menerima kehadiran kontol ini."Add.. Aduuhh.. Amm.. Ppuunn.. Zzhh.. Maazz Phhurr.. Eenhaakk bhaangeett.. Teeruzz.."Aku langsung melayang dalam mabok nikmat syahwatku. Secara refelks pantatku bergerak menggoyang menjemputi rasa gatal yang tak terkatakan. Dinding-dinding vaginaku rasanya menuntut garukan-garukan. Dan berharap batang kontol Mas Pur yang terasa mulai melesak ini menggaruki kegatalan syahwatku. Aku berteriak dan mendesis, sementara Mas Pur langsung memberikan serangan nikmat susulan. Bibirnya memagut leherku dan melumatinya. Aku hanya mendesis menahan nikmat sambil menggeliat ke arah belakang. Aku berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang.Yang kemudian terjadi adalah ayunan pompaan yang mendera kemaluanku. Kontol Mas Pur terasa merambah semua sudut-sudut vaginaku dan merangsang saraf-saraf pekaku. Aku histeris.


Dengan segala upaya dan cara menggenjot balik pompaan kontol Mas Pur. Rasanya seluruh lubang vaginaku telah mencengkeram ketat dan legit kontol gede ini. Daann.."Amppunn.. Aku tak sanguupp Maazz.."Dengan cengkeraman pada rambutnya yang langsung membuat bibirnya menerkam dan menyedoti bahu, lengan kemudian lembah ketiakku mendorong aku dengan kilat meroket menuju puncak syahwatku. Dengan kelojotan pinggulku aku kembali menjambaki sambil merasakan bagaimana tegang dan peka urat-urat saraf vaginaku dirambati datangnya orgasme. Yaacchh.. Aku mendapatkan orgasme yang sangat nikmat dari Mas Pur. Orgasme yang jarang kudapatkan saat aku berhubungan dengan Mas Pardi.Aku tak mampu lagi berdiri. Kami berdua rubuh ke karpet kamar mewah Grand Hayyat ini. Ini adalah pengalaman orgasme terpanjang yang belum pernah aku alami. Rasanya seluruh sendi-sendi dan saraf-sarafku dilolosi dari akarnya. Aku terjatuh lunglai.Namun ternyata Mas Pur masih penasaran dan terus memacu. Dia semakin ganas.


Tanpa memperhatikan kelelahanku dalam posisi rubuh, cepat diraihnya tubuhku sehingga aku seperti bayi yang sedang merangkak. Dengan bertumpu pada kedua sikutku aku nungging menanti apa yang Mas Pur perbuat. Rambutku telah balau. Keringat tubuhku membuat mukaku setengah telungkup tertutup oleh rambutku yang terurai.Aku merintih pelan saat kurasakan kembali kontol Mas Pur menggelitik dan mendesaki kemaluanku yang semakin becek. Kembali dari arah belakang macam anjing kawin, Mas Pur memasukkan kemaluannya dan menusukki vaginaku kembali. Kali ini tingkah Mas Pur liar dan buas banget. Dia raih rambutku dan dijadikannya tali kekang sambil memompakan kemaluan besar dan panjangnya."Ayyoo.. Jeng Tatii.. Puaskan akuu.. Ayoo.. Enak khan..? Kontolku gedee.. Yaa.. Enak khan kontolkuu..? Pasti lebih enak dari pada milik suamimu khaann..?? Ayyoo.. Jengg Tattii..." Mas Pur terus meracau saat menapaki puncak syahwatnya.Aku tahu dia sedang keadaan trance penuh nikmat birahi. Pasti rasanya seperti melayang-layang tanpa batas. Aku harus membantu agar dia benar-benar tuntas mengalami ejakulasi. Aku harus membantunya agar sperma bisa sebanyak mungkin terkuras habis. Aku tahu bagaimana cara itu,"Oocchh Maass Puurr.. Enaakk bangett.. Enak banget kontol Mas Purr.. Aku nggak tahan Maass.. Tatii mau kontol Mas Pur selamamnya.. Oocchh..".Dan ternyata desah dan rintihku benar-benar telah mendongkrak puncak birahinya. Mas Pur mempercepat genjotannya.


Aku mulai merasakan pedih perih.. Rasanya bisa jebol memekku ini.Tusukkan-tusukkannya itu menyentuh dinding rahimku. Dan hal itu justru membangkitkan kembali gairah syahwatku. Aku dilanda kenikmatan nafsu birahi yang hebat kembali. Bahkan aku juga kembali ikut menjemputi kontol gede itu dengan segala nikmat syahwatku. Ruang vaginaku mencengkeram ketat legitnya batang kemaluan Mas Pur membuat aku lupa segalanya. Ketika pompaan semakin cepat yang menandai Mas Pur mendekati puncak syahwatnya aku merintih dalam nikmat tinggi."Mas Puurr.. Enhakk bangett.. Mas Purr.. Enhaakk bangett.. Mas Puurr..." sambil aku terus menggoyang pinggulku menjemputi pompaan kemaluannya yang semakin legit ini."Enak mannaa sama kontol suamimu.. Hheecchh?? Enak maannaa sama kontol suamimu heecchh?? Enaakk maannaa..??" merintih dan mendesah bersamaan terlontar dari bibirku."Enhhaak Mas Pur punyaa.. Enhhaak punyaa Mas Puurr..." kata-kata itu membuat Mas Pur langsung rebah mendekap tubuhku.Kedua tangannya meremasi payudaraku sambil bibirnya menyedot keras punggungku. Dan kontolnya yang demikian keras berpacu dalam vaginaku kurasakan menembakkan cairan yang sangat panas. Dan akhirnya datang juga. Mas Pur menjambak keras rambutku dan menariknya seperti menghela kuda tunggangnya. Dengan teriakkan histerisnya kurasakan kedutan besar mengisi rongga memekku. Kedutan itu memancarkan cairan panas. Kemudian disusul kedutan-kedutan berikutnya. Berliter-liter air mani Mas Pur langsung memenuhi vaginaku. Mas Pur masih terus memacunya hingga keringatnya luluh membasahi tubuh-tubuh kami sebelumnya akhirnya rebah telentang ke lantai.

Tidak ada komentar:

Loading...